August 29, 2006

Imunisasi HIB

Filed under: Children Life

Mencegah Serangan Bakteri Hib

Gizi.net – SEORANG anak balita, Nova (bukan nama sebenarnya) mengalami demam, sakit kepala, kaku leher, nyeri sendi, dan muntah-muntah. Tidak lama kemudian anak itu tidak sadarkan diri hingga beberapa hari. Setelah dirawat hampir satu minggu di ruang ICU dan diberi antibiotik yang cukup mahal, barulah ia sadar. Setelah itu ia masih harus menjalani perawatan hingga beberapa minggu.

Nasib Nova masih mujur, ia sempat dibawa ke rumah sakit dan keluarga memiliki uang untuk biaya perawatan. Banyak kasus serupa yang menimpa anak-anak balita lain, langsung meninggal beberapa jam setelah muncul gejala.

Penyakit yang menimpa Nova kemungkinan besar adalah radang selaput otak (meningitis) yang disebabkan bakteri Haemophyllus influenzae tipe B atau yang disebut Hib B.

Menurut Prof dr Sri Rezeki S Hadinegoro, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bakteri Hib B merupakan salah satu penyebab tersering kesakitan dan kematian pada bayi dan anak berumur kurang dari lima tahun. Infeksi Hib B, kata Sri kepada Media, paling sering menyebabkan meningitis, pneumonia (radang paru), dan epiglotitis (radang tulang rawan tenggorokan).

“Penyakit ini berisiko tinggi, menimbulkan kematian pada bayi. Kalaupun sembuh, meningitis dapat menyebabkan gangguan pendengaran, mental, dan otak,” jelas spesialis anak itu lagi.

Meningitis, lanjutnya, termasuk penyakit berbahaya yang kadang-kadang awalnya sulit diketahui, karena tidak mempunyai gejala spesifik. Sehingga sangat sulit untuk mendeteksinya. Bila tidak ditangani secara tepat dan cepat bisa berakibat fatal.

Lebih lanjut, Sri mengatakan, anak-anak di bawah usia lima tahun merupakan kelompok paling rentan terinfeksi Hib. Dan usia yang paling berisiko adalah 2 bulan-18 bulan, dan sekitar 5-10% dari mereka yang terinfeksi meninggal.

Infeksi akut Hib juga menyerang bayi berusia di bawah enam bulan, dengan tingkat kematian mencapai 40%. Di negara Barat, Hib menyebabkan penyakit pada 20-200 per-100.000 penduduk. Dari Asia Hib juga dilaporkan sebagai penyebab utama meningitis.

Sedangkan di Indonesia Hib juga dilaporkan menjadi penyebab 33% kasus meningitis. Kemudian hasil riset lanjutan melaporkan, Hib merupakan 38% penyebab meningitis pada bayi dan anak berumur kurang dari lima tahun. Penularan bakteri Hib adalah melalui udara atau kontak langsung dengan penderita.

Sri mengatakan, penelitian pendahuluan di Lombok, NTB, menunjukkan prevalensi pembawa kuman sebesar 4,6%. Angka tersebut dinilai cukup tinggi. Bila prevalensi pembawa kuman cukup banyak, lanjutnya, kemungkinan kejadian meningitis dan pneumonia akibat Hib biasanya juga tinggi.

Pengobatan

Dulu pengobatan bisa dilakukan dengan memberikan antibiotik. Tetapi saat ini antibiotik saja tidak cukup ampuh, karena bakteri Hib banyak yang sudah kebal. Di Amerika diperkirakan 40% bakteri Hib resisten terhadap obat antibiotik ampisilin.

Kenyataan ini menyebabkan para ilmuwan kesehatan kemudian memusatkan perhatian mereka pada upaya pencegahan penyakit Hib. Akhirnya mereka memutuskan bahwa imunisasi Hib adalah satu-satunya cara paling praktis dan efektif untuk mencegah terjadinya penyakit akibat bakteri Hib. Di beberapa negara vaksinasi Hib telah dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi wajib untuk bayi dan balita.

Pemberian vaksin Hib sedini mungkin akan melindungi bayi dan balita dari serangan meningitis, pneumonia, dan epiglotitis.

Menurut dr Fransiscus Chandra, Direktur Medikal GaxoSmithKline (GSK), Vaksin Hib berisi komponen PRP-T (konjugasi polyribosyl-ribitol phosphate dengan tetanus taxoid) yang terbukti memberikan kekebalan tubuh paling optimal dibandingkan dengan vaksin konjugasi Hib dengan bakteri lainnya.

Pemberian vaksin Hib saat ini telah direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Untuk bayi usia 2-6 bulan diberikan imunisasi Hib sebanyak tiga dosis dengan interval satu bulan. Bayi berusia 7-12 bulan diberikan sebanyak dua dosis dengan interval waktu satu bulan.

Sedangkan anak berumur 1-5 tahun cukup diberikan satu dosis. Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi kecil (26% terjadi pada bayi berumur 2-6 bulan dan 25% pada bayi berumur 7-11). Vaksin Hib tidak dianjurkan diberikan pada bayi di bawah dua bulan, dinilai belum dapat membentuk antibodi. Setelah pemberian vaksin, efek samping yang mungkin timbul adalah demam, nyeri, atau bengkak pada tempat suntikan. (Ros/V-2)

Sumber: gizi.net

-mahadewi

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://mahadewi.blogsome.com/2006/08/29/imunisasi-hib/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


babies