–Konstipasi - Sembelit -
ANAK SEMBELIT JANGAN SEMBARANG DIKASIH OBAT
Tampaknya memang enteng. Tapi, hati-hati, lo, karena bisa berakibat kronis. Pengobatannya sampai berbulan-bulan. Ih, serem amat, ya!
Ma, perutku sakit sekali,” keluh Adi pada ibunya. Setelah diselidiki, ternyata sudah empat hari Adi engggak BAB (buang air besar). Ketika dicoba BAB, tinja yang keluar mengeras sehingga Adi kesakitan. “Oh, Adi sembelit, nih,” komentar sang ibu, lalu diberilah obat tanpa berkonsultasi lagi pada dokter.
Begitu, kan, yang kerap kita lakukan kala si kecil mengalami kesulitan BAB (buang air besar). Kendatipun ia tak mengeluh sakit, tapi kalau sudah beberapa hari ia enggak BAB, kita langsung bingung dan cepat-cepat memberinya obat. Atau, kalau kita lihat ia sering mengedan karena tinjanya keras, kita pun buru-buru memberinya obat.
Padahal, memberikan obat tanpa konsultasi lagi merupakan tindakan yang kurang tepat. Soalnya, belum tentu benar si anak mengalami sembelit. “Bisa saja karena perutnya yang kosong sehingga ia tidak BAB selama beberapa hari,” ujar dr. Badriul Hegar Syarif, Sp.A. Kalau tinjanya keras, boleh jadi lantaran ia kurang mengkonsumsi buah-buhan dan sayuran hijau.
TINJA SANGAT BESAR
Perlu diketahui, pola BAB anak sangat bergantung pada umur, pola makanan, dan kebiasaan anak. Sejumlah penelitian pada anak normal memperlihatkan pola BAB yang cukup bervariasi. “Frekuensi BAB pada minggu-minggu pertama kelahiran dapat mencapai lebih dari 4 kali sehari, karena bayi belum memiliki beberapa enzim pencernaan yang cukup,” tutur Hegar.
Setelah itu, menurun jadi 1-2 kali sehari pada umur 4 tahun. “Ada juga yang menyebutkan 95 persen anak berumur 1-3 tahun mempunyai pola BAB setiap dua hari,” ujar staf pada Sub. Bag. Gastroenterologi Anak FKUI/RSUPN Ciptomangunkusumo, Jakarta, ini. Jadi, tak benar jika selama ini kita beranggapan BAB normal harus terjadi minimal sekali sehari.
Nah, pada sembelit atau konstipasi istilah kedokterannya, terang Hegar, ada 3 hal penting yang harus diperhatikan, yaitu frekuensi BAB, konsistensi atau bentuk tinja, dan keadaan klinis. Gejalanya, BAB kurang dari 3 kali seminggu, rasa nyeri saat BAB, rektum terisi penuh oleh tinja yang keras, atau teraba massa tinja pada dinding perut. “Jika ditemukan minimal satu gejala tersebut, maka bisa dikatakan si anak mengalami konstipasi.”
Gejala lain yang juga sering dijadikan patokan adalah BAB dengan tinja yang sangat besar setiap 7 hari sekali dan enkopresis (kecepirit), yaitu keadaan dimana pengeluaran tinja sedikit-sedikit berbentuk cair akibat konstipasi yang telah berlangsung lama.
AKUT DAN KRONIS
Kendati dengan mengenali gejalanya saja bisa diketahui anak mengalami sembelit, namun pemeriksaan secara klinis tetap diperlukan untuk memastikan keluhan yang disampaikan orang tua memang benar suatu konstipasi atau bukan.
Soalnya, terang Hegar, anak yang menderita konstipasi berat dapat memperlihatkan BAB cair yang keluar sedikit-sedikit, namun setelah dilakukan pemeriksaan fisis ditemukan massa tinja di dinding perut dan rektumnya. Sebaliknya, “bayi yang minum ASI dapat saja memperlihatkan pola BAB yang jarang, tapi pada pemeriksaan dinding perut dan rektumnya tak ditemukan massa tinja. Keadaan ini tak dapat disebut sebagai konstipasi.”
Lagi pula, walaupun sembelit bisa dibilang tak terlalu berat, namun juga tak bisa dianggap sepele karena sembelit ada yang bersifat akut dan kronis. “Dikatakan konstipasi akut bila keluhan timbul selama 1-4 minggu. Sedangkan konstipasi kronis, keluhannya berlangsung lama, lebih dari sebulan,” terang Hegar lagi.
Pada konstipasi akut, lanjutnya, pengobatan biasanya cuma perlu beberapa hari saja. Tak demikian halnya dengan konstipasi kronis, “pengobatannya berlangsung lama. Bahkan, ada yang sampai berbulan-bulan, lo.” Selain itu, bila pengobatan sederhana yang dilakukan tak memberikan respon, perlu dipikirkan kemungkinan adanya gangguan mental sebagai penyebab keadaan konstipasi. Jadi, jangan anggap enteng sembelit, ya, Bu-Pak!
INTERVENSI DIET
Sayangnya, ujar Hegar, kebanyakan orang tua membawa anak ke dokter pada keadaan yang sudah lanjut. Sudah gitu, si orang tua ingin anaknya sembuh dalam sehari. “Ya, enggak bisa, dong, karena penanganannya sangat tergantung pada penyebabnya.” Misalnya, jika ditemukan kelainan anatomi, maka koreksi kelainan secara dini sangat diperlukan. Bila penyebabnya stres, maka diupayakan untuk menghilangkan faktor yang diduga sebagai penyebab stresnya.
Yang jelas, bila penanganan diberikan secara tepat, biasanya keluhan akan berlangsung ringan dan sebentar. Namun tentunya dengan catatan, keadaan konstipasinya belum lama. “Tapi kalau orang tua membawa anaknya ke dokter setelah kejadian berlangsung lama, ya, penangananya jadi lebih sulit,” bilang Hegar.
Sebagai langkah awal dan utama yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi sembelit pada anak ialah intervensi diet. Berikan makanan mengandung tinggi karbohidrat yang tak dicerna (glukosa polimer), seperti sereal dan beras; tinggi serat (fiber), seperti, buah-buahan (pepaya, jeruk, alpokat) dan sayuran hijau. “Pisang sebaiknya tak diberikan selama mengalami sembelit karena mengandung bahan pektin yang dapat menyebabkan tinja lebih keras.” Sedangkan biji selasih sebagaimana sering dianjurkan oleh orang-orang tua, menurut Hegar, boleh saja karena juga mengandung fiber. Lebih tepat lagi bila diberikan cairan lebih banyak, minimal 1,5 liter per hari.
Pada keadaan tertentu, seperti terabanya massa tinja di dinding perut atau rektum, anak dapat diberikan pencahar. “Namun penggunaan pencahar sebaiknya dalam pengawasan dokter,” tukas Hegar. Pasalnya, jenis, lama, dan dosis pencahar yang diberikan sangat tergantung dari berat ringannya konstipasi. Pencahar dapat diberikan melalui oral (mulut) atau anus. Pemberian melalui anus biasanya pada keadaan yang lebih berat, dimana tinja tersebut harus segera dikeluarkan setelah dengan pemberian oral atau diet tak menunjukkan hasil.
Tak jarang para ibu mengolesi rektum anak dengan minyak kelapa atau baby oil. Menurut Hegar, boleh-boleh saja. Hanya perlu diperhatikan, ada anak yang memiliki kulit sensitif sehingga pemberian minyak bisa menimbulkan iritasi. Kendatipun tak iritasi, sebaiknya jangan terlalu sering. Ingat, lo, Bu-Pak, sembelit bisa bersifat kronis.
KEBIASAAN MENAHAN BAB
Penyebab sembelit, menurut dr. Hegar, sangat kompleks dan multifaktor; diantaranya riwayat sembelit pada anggota keluarga (namun adanya dugaan ini masih terus dilakukan penelitian) dan pola sosial-budaya. “Frekuensi BAB anak yang tinggal di daerah yang biasa mengkonsumsi sayuran, seperti Jawa Barat, akan berbeda dengan anak yang tinggal di daerah lain yang biasa mengkonsumsi daging, misalnya, Sumatera Barat,” tuturnya.
Sejumlah faktor lain yang ikut berperan ialah gangguan fungsional, rasa nyeri saat BAB, gangguan motilitas (peristaltik) saluran cerna, kelainan tinja, dan obstruksi mekanis pada saluran cerna.
“Gangguan fungsional berkaitan erat dengan perlakuan orang tua, seperti latihan BAB yang salah dan terlalu dini sehingga anak jadi trauma,” terang Hegar. Bisa juga karena anak mengalami fobia toilet (kamar mandinya seram, jadi ditahan saja), dan enggan BAB di sekolah (mungkin WC-nya tak bersih dan bau) pada anak yang lebih besar.
Nah, kebiasaan menahan keinginan BAB mengakibatkan gangguan motilitas dan peningkatan penyerapan air dari tinja di dalam usus sehingga tinja menjadi keras. Gangguan motilitas usus juga dapat terjadi akibat penggunaan obat-obatan tertentu, infeksi virus, kelainan neuromuskular (kelainan yang mengenai sistem saraf dan otot) atau kelainan sistem endokrin (hipotiroid, hiperkalsemia).
Sementara rasa nyeri saat BAB sering ditimbulkan akibat pemakaian pencahar melalui anus secara berlebihan dan benda asing, serta adanya fisura (luka) di daerah anus. Sedangkan kelainan tinja berupa berubahnya komposisi tinja yang dapat disebabkan oleh diet (masukan susu yang berlebihan), keadaan dehidrasi (kekurangan cairan di dalam tubuh), atau kekurangan gizi.
Faktor lain yang mungkin berperan adalah kelelahan, penurunan aktivitas, dan tak teraturnya makan.
BAYI PUN BISA SEMBELIT, LO
Jika di usia 2 tahun si kecil mengalami sembelit, coba Bapak-Ibu ingat-ingat lagi sewaktu ia masih bayi. Menurut dr. Hegar, gejala klinis sembelit pada anak mulai terlihat di usia 2 tahun dan berkaitan dengan kebiasaan BAB saat bayi. “Biasanya ia pernah mengalami periode susah BAB selama beberapa hari pada usia 6-12 bulan, tapi mungkin saat itu orang tua tak menganggap serius,” tuturnya.
Tapi tak berarti jika bayi tampak kesakitan, kemerahan, dan mengedan saat BAB merupakan pertanda pasti sembelit, lo. Meskipun frekuensi BAB berkurang, tapi bila konsistenti tinjanya normal dan pada pemeriksaan fisik tak ditemukan kelainan, maka keadaan ini bukan sembelit. Soalnya, terang Hegar, “bayi belum mampu mengontrol proses BAB-nya secara optimal.”
Lagi pula, bayi yang mendapatkan ASI tak mudah mengalami sembelit, karena kadar laktulosa dalam ASI yang tinggi dapat mencegah terjadinya konstipasi. Itulah mengapa, pada bayi yang sering mengalami sembelit dan telah mendapat susu formula, dokter kerap menyarankan agar bayi diberikan susu yang mengandung bahan yang dapat memperbaiki fungsi motilitas, seperti laktulosa.
Tapi bila mekonium (kotoran berwarna kehitaman) tak keluar setelah 48 jam kelahiran atau bayi mengalami sembelit pada satu minggu pertama kelahiran, harus dipikirkan kemungkinan adanya kelainan anatomi. Yang paling sering ditemukan adalah Morbus Hirschprung, yaitu tak ditemukannya persarafan pada sebagian segmen usus. “Dengan tak adanya sistem saraf tersebut, gerakan usus akan terganggu sehingga tinja akan tertahan di situ.”Pengaruhnya, bila keadaan ini berlangsung lama, kuman-kuman di usus besar jadi menumpuk dan berlebihan. Selanjutnya akan terjadi infeksi enterokolitis (infeksi usus). Bila didiamkan bisa menjadi sepsis (infeksi berat) yang dapat menyebabkan kematian bayi.
Kendati sembelit merupakan penyakit fisik, namun bisa berdampak psikologis dan sosial, lo. Kalau ia kecepirit, misalnya, tentu bisa membuatnya jadi malu di depan teman-temannya. Apalagi bila sering terjadi, “bukan cuma malu, anak pun kerap jadi dimarahi orang tua atau guru,” kata dr. Hegar.
Lebih jauh lagi, keadaan ini dapat mempengaruhi harga diri si anak. “Akibatnya, bukan tak mungkin akan menurunkan kualitas hidupnya, sehingga anak merasa gelisah.”
Anak pun jadi cenderung menahan keinginan BAB, yang tentunya akan memperparah sembelitnya. Selain itu, anak juga akan mengalami anoreksi (nafsu makan berkurang), muntah, iritabel, sakit perut, dan menurunnya aktivitas. “Keadaan akan menjadi lebih berat apabila lingkungan tak memahami kondisinya,” tukas Hegar.
Riesnawiati (Artha Ariadina)
BAYIKU SEHAT ATAU SAKIT?
Jika Anda ragu mana gangguan “normal” dan abnormal pada bayi, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter.
BISUL DI SELURUH TUBUH
* Normal:
Sekitar 50 persen bayi yang lahir cukup bulan sering mengalami bisul-bisul kecil atau jerawat yang dikelilingi oleh warna kulit yang kemerahan. Gangguan ini bisa timbul di seluruh tubuh bayi, entah itu di wajah, badan, punggung, tangan, kaki, dan tempat-tempat lainnya. Kalangan awam menyebut kondisi seperti ini dengan sebutan sarap.
Puncak terjadinya bisul-bisul ini umumnya saat bayi berusia dua hari dan biasanya dialami selama kurang lebih dua minggu. Akibat adanya bisul-bisul ini, orang tua enggan memandikan bayinya karena takut kondisinya akan memburuk. Padahal dengan begitu, justru bisa mengundang infeksi kulit karena kulit si kecil berdaki atau kotor akibat tidak dimandikan. Jadi solusinya sederhana saja, tetap mandikan bayi seperti biasa.
Sayang, penyebabnya belum diketahui secara pasti. Walaupun demikian, tak usah terlalu khawatir karena gangguan yang dalam bahasa kerennya Erythema Toxicum ini akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu diobati.
* Abnormal:
Lalu apa bedanya dengan bisul-bisul karena penyakit kulit? Erythema Toxicum biasanya merupakan suatu gangguan pada kulit bayi yang berdiri sendiri. Artinya, tidak ada gejala lain selain dari gejala yang sudah diterangkan sebelumnya.
Bila orang tua menemukan bisul-bisul disertai dengan adanya demam, gatal, bernanah dan lain sebagainya, si kecil mungkin mengalami penyakit kulit. Bisa saja penyakit kulit tersebut berupa infeksi, jamur atau bahkan alergi.
<em>BERCAK MERAH DI WAJAH</em>
* Normal :
Pada bayi sering juga ditemui kelainan kulit lainnya berupa bintik-bintik/bercak/noda merah di bagian wajah, terutama pipi. Terjadinya gangguan ini ada yang menghubungkannya dengan ASI yang meleleh keluar dari mulut ke pipi bayi saat menyusui. ASI diduga mengiritasi kulit di pipi bayi tersebut.
Selain gejala di atas, biasanya dapat juga disertai dengan gejala gatal, sering berulang, dan ada riwayat alergi dalam keluarga. Berbicara tentang alergi, dikatakan bahwa lebih dari 50 persen bayi yang mengalami kelainan kulit ini, yang bahasa medisnya Dermatitis Atopic, akan berkem-bang menjadi asma dan jenis alergi lainnya di kemudian hari.
Salah satu cara yang sederhana yang dapat dilakukan untuk menghindarinya adalah dengan membersihkan pipi si kecil dengan air hangat dan mengeringkannya secara lembut setiap kali setelah bayi diberi ASI.
* Abnormal:
Kulit bayi relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Oleh karena itulah kulitnya menjadi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural pun kulit bayi belum berkembang dan berfungsi optimal.
Bila orang tua menemukan tanda-tanda infeksi atau lainnya pada kulit bayinya, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
KUNING
* Normal:
Gejala kuning yang tampak pada kulit dan mata bayi biasanya terjadi karena meningkatnya kadar bilirubin indirek dalam darah. Banyak hal yang dapat menyebabkan kadar biliribun indirek ini meningkat. Pada bayi baru lahir, misalnya, kadar protein yang kurang, kerja hati yang belum optimal, kurang minum, dan lain-lain.
Kuning pada bayi dianggap masih normal bila timbulnya kurang lebih pada hari ketiga setelah lahir. Untuk menghindari atau mengurangi kuning yang terjadi, bayi dianjurkan untuk tetap diberi ASI dan dijemur di bawah sinar matahari pagi, sebelum jam 10 selama kurang lebih 10-15 menit.
Selain kuning akibat hal di atas, ada juga kuning pada bayi yang disebabkan justru karena ASI, yang disebut juga sebagai breastmilk jaundice. Kuning yang terjadi akibat ASI biasanya timbul pada saat bayi berusia 7 hari dan berkurang dengan sendirinya dalam waktu 2 hari setelah ASI dihentikan. Hal ini diduga karena ASI mengandung enzim glukoronidase.
* Abnormal :
Kuning pada bayi yang harus diwaspadai adalah kuning yang timbul dalam 24 jam pertama setelah bayi lahir. Kuning yang seperti ini disebut sebagai kuning yang patologis. Penyebabnya antara lain bisa karena ketidakcocokan antara golongan darah atau rhesus ibu dan bayi, kurangnya enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase, dan lain-lain. Kelainan-kelainan tersebut harus segera mendapat penanganan dokter di rumah sakit.
<em>DIARE</em>
* Normal:
Dalam 4 hari pertama, ASI banyak mengandung kolostrum yang sifatnya seperti pencahar. Akibatnya, jangan heran bila bayi-bayi yang mendapat ASI eksklusif sejak awal buang air besarnya sering, seolah-olah menderita diare. Ada yang baru selesai menyusui, langsung buang air besar.
Di dalam sebuah literatur bahkan dikatakan ada bayi yang buang air besar dalam 1 hari mencapai 20 kali, namun tetap normal. Orang tua yang tidak mengerti keadaan ini tentunya akan menganggap bayinya diare atau mencret.
Bagaimana membuktikan atau membedakan keadaan ini diare atau bukan? Bila di rumah punya timbangan bayi, timbang saja berat badan si bayi. Kalau berat badannya tak anjlok tetapi tetap naik, berarti bukan diare. Selain itu, perhatikan keadaan si kecil, bila tidak rewel, anteng-anteng saja, tidak gelisah, kemungkinan besar juga bukan diare.
Selain karena kolostrum, buang air besar yang sering pada bayi juga bisa terjadi akibat enzim pencernaan yang belum bekerja secara optimal. Salah satu enzim yang dapat menyebabkan keadaan ini adalah enzim laktase yang bertugas memecah laktosa menjadi gugus gula yang mudah diserap di usus.
* Abnormal:
Bayi yang mengalami diare biasanya terjadi karena kontaminasi kuman pada susu yang diminumnya. Bisa karena ibu tidak atau lupa mencuci tangan sebelum membuat susu, tidak merebus botol susu si bayi, dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kebersihan.
Jika diare yang terjadi memang karena kuman, pada kotoran bayi biasanya akan dijumpai darah atau lendir. Selain itu, jika ditimbang, berat badan bayi akan terlihat merosot dibanding berat badannya sebelum mengalami diare.
Orang tua yang menjumpai gejala atau tanda-tanda tersebut pada bayinya, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
<em>SEMBELIT</em>
* Normal:
Hampir 100 persen ASI diserap oleh usus bayi sehingga tidak perlu heran bila ada bayi yang kadang dalam satu hari tidak buang air besar. Orang tua sering menganggap keadaan bayinya yang seperti ini sebagai sembelit. Pasalnya, kebanyakan orang tua masih menganggap bahwa bayi itu harus buang air besar setiap hari.
Saat buang air besar, bayi biasanya akan mengejan kuat dan mukanya kadang bisa berubah menjadi merah. Sekalipun kotoran yang dikeluarkannya normal atau dengan kata lain tidak keras. Kondisi seperti ini merupakan hal yang normal dijumpai pada bayi-bayi usia di bawah tiga bulan yang sehat. Orang tua tak perlu cemas melihat keadaan ini dan cepat-cepat menganggapnya sebagai sembelit.
Di dalam sebuah literatur bahkan dikatakan bahwa pada tahap ini justru orang tua sering bereksperimen dengan mencoba mengobati bayinya sendiri dengan memberikan obat-obatan yang melunakkan kotoran. Padahal itu sebenarnya tidak perlu, karena kotorannya memang tidak keras.
Untuk membedakan apakah normal atau tidak, lakukan perabaan pada perut bagian kiri. Jika tidak teraba adanya benjolan, berarti memang tidak ada yang harus dikeluarkan dari tubuh si bayi.
Sembelit yang "normal" ini juga tidak ada hubungannya dengan makanan yang dimakan ibu. Ada penelitian yang membuktikan bahwa sekalipun ibu makan banyak sayur-sayuran, tetap saja ada waktu-waktu tertentu dimana si bayi tidak buang air besar sama sekali dalam satu hari. Pada perabaan perut bagian kiri juga tidak dijumpai adanya benjolan yang biasanya merupakan kumpulan kotoran si bayi di dalam ususnya.
* Abnormal :
Sembelit yang harus diwaspadai adalah sembelit yang terjadi sejak bayi lahir, yang terjadi akibat tidak dijumpainya ganglion-ganglion saraf pada usus besar bayi. Akibatnya, kotoran bayi di dalam usus tidak bisa tersalurkan sampai ke anus dengan baik. Kotoran bayi akan berkumpul dan bertambah banyak secara kumulatif di dalam usus.
Bayi terlihat gelisah dan pada perabaan perut biasanya akan terasa adanya benjolan yang merupakan kumpulan dari kotoran bayi yang tidak bisa disalurkan, atau dengan kata lain mampet. Kelainan ini disebut sebagai penyakit Hirschprung atau Megacollon.
Bila orang tua menemukan keadaan ini, jangan berpikir panjang lagi, segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Lagi pula sembelit yang terjadi karena kurang makan sayur atau buah-buahan biasanya terjadi pada anak dengan usia lebih besar, tidak pada bayi, apalagi bayi baru lahir.
<em><strong>PENTING DIPERHATIKAN</strong></em>
Ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan orang tua, di antaranya adalah:
1. Jika orang tua ragu apakah gangguan yang dialami bayinya tergolong "normal" atau abnormal, konsultasikan segera ke dokter guna mendapatkan jawaban yang tepat untuk mengatasi keraguan tersebut.
2. Jangan mencoba untuk mengobati sendiri bila orang tua sendiri masih ragu terhadap gangguan yang dialami bayinya. Pemberian obat yang tidak sesuai indikasi justru akan menimbulkan masalah.
Hilman Hilmansyah
Konsultan Ahli:
<strong> dr. Edi S. Tehuteru, Sp.A, MHA</strong>
Sumber : Milis Sehat
mahadewi





saya sekarang sedang mengalami konstipasi, setelah diberi obat mencahar, sepertinya selesai, akan tetapi peristiwa ini sudah berlangsung sekitar 2 kali, bagaimana untuk selanjutnyA..
Comment by Enny Prasojo — April 8, 2008 @ 7:20 am
hhhh… terima kasih sekali untuk infonya… sudah 3 bulan ini saya konstipasi berat, jika mau BAB harus dipancing dulu dengan pencahar (biasnya laxing, atou teh hijau yang mengandung pencahar). padahal dulu hanya mengkonsumsi teh hijau biasa saja, BAB lancar tetapi kok 3 bulan terakhir tidk ya… (sayur oke, buah oke… pepaya,... roti gandum).. hhhm.. awal konstipasi seingat saya, adalah pada saat saya mengkonsumsi susu diet (tropicanaslim) dan teh hijau standar secara hampir bersamaan—apakah ini penyebab konstipsi saya?
Comment by bE — May 13, 2008 @ 2:42 pm
Waduh.. ufa memang suka sembelit. Tapi karena di aktif terus, BBnya juga naik.. gak masalah.
Makasih infonya..
Comment by ufa — September 9, 2008 @ 3:12 am
Kulit ari beras yang dikenal juga secara tradisional sebagai bekatul adalah sumber alami serat pangan. Teruma bagi mereka yang kurang makan buah dan sayur. Mengkonsumsi kulit ari beras/ bekatul merupakan cara cepat dan tepat untuk memenuhi kebutuhan serat pangan harian. Konstipasi/ sembalit dapat diatasi dengan konsumsi kulit ari beras. Hasil bisa dirasakan relatif cepat dan bersifat permanen. Saat ini sudah ada produk sereal kulit ari beras yang instan dan siap makan, terbuat dari kulit ari beras yang ditanam secara organik/ bebas kimia dan pestisida sehingga aman dikonsumsi jangka panjang. Produk tersebut bisa anda dapatkan di www.seratalami.com
Terima kasih
Comment by anjeb — December 20, 2008 @ 3:28 pm